Mengenal Lengkeng Matalada (Biji Lada) atau Juga disebut Lengkeng Hawae – Lengkeng matalada merupakan lengkeng dataran rendah. Nama Matalada sama dengan biji lada, namun dengan lengkeng hawae sebenarnya sama namun ada sebagian orang yang menagatakan kedua jenis tersebut berbeda. Perbedaaan lengkeng hawae dengan matalada yaitu ujung daun matalada agak sedikit melengkung atau meruncing sedangkan jenis kelengkeng hawe ujiung daun melebar, namun hal itu sangat susah dilihat. ada juga yang mengatakan perbedaannya ada pada kulit bauh lengkeng hawae jika terlalu tua akan sobek atau pecah, sedangkan lengkeng matalada tidak. Namun kebanyakan penjual bibit mengatakan bahwa kedua jenis tersebut sebenarnya sama.

Mengenal Lengkeng Matalada (Biji Lada) atau Juga disebut Lengkeng Hawae
Pohon Lengkeng Matalada yang mulai berbunga saat usia 14 bulan

Lengkeng ini sangat cocok untuk di kebunkan, karena bersifat genjah. Tanpa perlakuan khusus lengkeng ini sudah mampu berbuah lebat. Salah satu ciri dari lengkeng hawai adalah daging buahnya yang tebal, berbiji sangat kecil (seperti namanya “matalada”, bijinya pun hanya sebesar lada), buahnya pun berukuran cukup besar dengan diameter antara 2,5 – 3 cm. Bagi Anda para pecinta tabulampot, jenis lengkeng ini dapat di jadikan sebagai pilihan karena tanaman lengkeng ini mempunyai tajuk yang bagus, eksotis, rindang dan mampu berbuah lebat. Mari kita simak informasi yang kami rangkum dari majalah Trubus tentang lengkeng matalada.

Sebatang pohon bertajuk piramida membetot perhatian Ir Wiwik Wijayahadi ketika mengunjungi lokasi proyek di Sarawak, Malaysia. Wiwik meminta sang rekan yang mengendari mobil untuk menepi. Wiwik manajer pemasaran benih PT DuPont Indonesia itu lantas berjalan untuk mengecek pohon. Sosok piramida itu ternyata pohon nangka. Saat mencari penjaga kebun untuk bertanya lebih jauh, ia melihat penemuan lain, yakni 6 jenis lengkeng. Beberapa di antaranya tengah berbuah.

Mengenal Lengkeng Matalada (Biji Lada) atau Juga disebut Lengkeng Hawae
Buah Lengkeng Matalada (Biji Lada) atau Juga disebut Lengkeng Hawae

Yang membuat Wiwik terpana, lengkeng itu berkulit putih, nyaris menyerupai duku. Ukurannya sedikit lebih besar daripada koin Rp500, kira-kira bergaris tengah 2,5—3 cm. Atas izin penjaga kebun, ia memetik sedompol buah lalu mengupas buahnya. Buah menguarkan aroma harum. Daging buah tampak transparan dan kering. Meski baru matang sempurna sebulan lagi, daging terasa manis ketika Wiwik mencecapnya. Menurut penjaga kebun, lengkeng itu bernama biji lada karena bijinya kecil.

Genetis

Di sepanjang jalan trans Kalimantan yang ia lalui memang banyak tumbuh lada Piper nigrum. Menurut Ir Agus Sugiyatno MP dari Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), biji kecil lengkeng biji lada murni sifat bawaan lengkeng itu. Daun biji lada membulat di tengah dan berujung runcing serta berwarna hijau tua. Selain biji lada, Wiwik juga menemukan lengkeng putih lain, tetapi memiliki pelat atau ring di kulit buahnya. Pelat itu muncul seragam di semua buah. Bentuk daun pun berbeda dengan biji lada: ujung runcing dan warna hijau tua lebih pekat daripada biji lada.

Itu membuat Wiwik yakin keduanya jenis berbeda. Ia menyematkan julukan satu jari sarawak kepada Dimocarpus longan itu. Nama satu jari menunjukkan daging buah yang tebal mencapai seruas jari. Sementara sarawak menunjukkan tempat ditemukannya lengkeng itu. Lengkeng satu jari sarawak berdaging buah tebal, nyaris setebal biji lada. Daging itu kering dan bercitarasa manis. Sayang, Wiwik belum sempat mengukur kadar kemanisan dua lengkeng itu. Lengkeng satu jari sarawak memiliki bagian yang dapat dimakan (edible portion) sebanyak 60%; biji lada, 85%.

Dari perhentian tak terduga pada Agustus 2009 itu, Wiwik memboyong lengkeng biji lada dan satu jari sarawak masing-masing 1 bibit. Saat itu kondisi bibit asal cangkokan setinggi 40 cm itu memprihatinkan. “Tidak ada tanda bakal muncul tunas di bibit itu,” kata ayah 2 putri itu. Begitu tiba di Yogyakarta, ia menanam bibit-bibit merana itu di polibag berukuran 20 cm x 25 cm. Media tanam berupa campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1.

Untuk menyehatkan tanaman ia menyemprotkan larutan pupuk daun sepekan sekali selama 4 pekan. “Kedua bibit itu tampak sehat dan segar setelah 2 pekan di polibag,” kata Wiwik. Kedua lengkeng itu masih menyimpan kejutan lain. Selang 4 bulan pascatanam di polibag, mereka berbunga. Wiwik pun segera merompes bunga itu agar tanaman berumur panjang. Sifat genjah itu menunjukkan biji lada dan satu jari sarawak tidak memerlukan perlakuan khusus untuk berbuah.

Menurut Wiwik, biji lada dan satu jari sarawak termasuk lengkeng non temperate (tropis), seperti lengkeng pingpong atau aroma durian. Sementara, kelompok temperate (subtropis) meliputi itoh, biew kiew, atau puang tong. Lazimnya lengkeng temperate tumbuh di dataran tinggi sehingga memerlukan perlakuan khusus agar berbuah. Produktivitas satu jari sarawak di umur 3 tahun mencapai 25—40 kg buah, sedangkan biji lada 20—32 kg.

Kami menjual bibit lengkeng matalada dengan harga relatif terjangkau. Kisaran harganya adalah 65 ribu – 80 ribu per bibit ukuran sedang. Selengkapnya bisa anda baca disini Jual Bibit Lengkeng Matalada / Hawae

Mengenal Lengkeng Matalada (Biji Lada) atau Juga disebut Lengkeng Hawae

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *