Budidaya Matoa – Mungkin Anda tak tahu bila di kaki Gunung Muria merupakan sentra matoa sejumlah 4.500 pohon matoa yang berusia sepuluh sampai dua puluh tahun. Pada kesempatan kali ini, infotanamanbuah.com akan menguraikan tentang panen matoa di kaki Gunung Muria. Sebagai titik-balik keberadaan matoa di Kudus, sekitar dua puluh tahun yang lalu ada seorang warga yang membawa buah matoa dari Papua. Menikmati sendiri tentu tak elok bila di samping kanan-kiri terdapat tetangga yang sedia bergabung untuk menikmati buah matoa bersama. Di awal nempel di lidah, rasa buah matoa amat asing bagi mereka. Setelah sekian kali buah matoa masuk ke dalam mulut, mereka bersepakat kalau buah matoa memiliki rasa yang nikmat. Berkat rasa yang nikmat, mereka mulai berandai-andai untuk membudidayakan buah matoa di kaki Gunung Muria. Perlahan namun pasti, matoa telah tumbuh subur di sana.

Tak hanya di Kudus, Pati di tahun 1984 sampai 1985 matoa berbuah merah mulai menyebar ke sebagai Pantura bagian timur; Kudus, Pati, dan Jepara, yang konon berasal dari tanah Kudus. Di tahun 1995 sampai 1996 pemerintah Kabupaten Pati pernah memberi bantuan bibit buah matoa kepada penduduk di Kecamatan Gembong.

Matoa
Matoa

Sepuluh tahun telah berlangsung bahagia bagi masyarakat Desa Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati sebab kenikmatan panen raya buah matoa selalu hadir setiap penghujung tahun. Berkat panen raya di Pati, Jepara, dan Kudus, masyarakat mulai bersiap terhadap serbuan kelelawar untuk menikmati buah matoa. Warga Kudus, Jepara, dan Pati telah bersiap diri dengan membungkus buah menggunakan jarring dan juga menggantungkan daun pandan berduri di tandan buah agar duri pada daun pandan menyakiti mulut kelelawar saat mereka mencoba menikmati buah.

Di kaki Gunung Muria, Pati dan juga di Jepara—di saat kelelawar menyerang tanaman—para pengepul merelakan diri untuk datang demi menemukan pohon yang tumbuh subur dan berbuah banyak, meski buah masih berbentuk pentil. Hal tersebut dilakukan oleh pengepul karena tak semua masyarakat mampu menjaga tanaman hingga buah masak dan takut bila kelelawar muncul kembali. Menyelamatkan buah anggota keluarga Sapindaceae menggunakan cara pembungkus berupa penen sejak buah masih berbentuk pentil sampai buah masak.

Tanaman matoa termasuk tanaman non klimaterik yang berarti tanaman yang tak bisa dipanen muda karena pematanagn buah akan berhenti setelah dipetik. Berbeda dengan buah mangga maupun buah pepaya yang dapat dipanen mangkal.

buah matoa
buah matoa

Di kaki Gunung Muria, matoa menjadi sumber pendapatan—begitu juga di Pati maupun di Jepara—yang mampu memberikan nominal satu juta lima ratus ribu rupiah per pohon. Jumlah panen mencapai 300 kilogram sampai 500 kilogram per hari. Bila Anda atau pun warga kaki Gunung Muria menanam lima puluh pohon matoa, tentu keuntungan akan berlipat ganda. Memanen buah sekaligus memanen keuntungan. Masyarakat kaki Gunung Muria biasanya menjual hasil panen ke beberapa pemasok buah dan pasar swalayan di Pati, Jepara, dan Semarang, bahkan mencapai tanah Sumatera dan juga sampai di ibu kota negara. Jakarta.

Pemasok buah dan konsumen sering mencari matoa yang berkualitas super karena bentuk dan warna buah amat menarik, begitu juga kombinasi tiga rasa; lengkeng, rambutan, dan durian.

Semoga dengan artikel ini keinginan Anda untuk budidaya bauh matoa segera terealisasikan tanpa perlu menunggu. Soal bibit, infotanamanbuah.com menyediakan apa yang Anda inginkan. Cukup membuka laman pada gawai, temukan infotanamanbuah.com, dan catat nomor customer service. Selanjutnya hubungi pihak—customer service—kami agar informasi ketersediaan bibit lekas Anda dapatkan.

Sekian dari kami, semoga bermanfaat, dan terima kasih. Sampai jumpa.

Panen Matoa di Kaki Muria

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *